Berkunjung kembali ke Desa Trunyan, tepatnya ke kuburan desa, pada tanggal 25/03/2010 bersama rombongan “Sun Voyages” dari Francis, menjadi pengalaman tersendiri buat tamu Prancis yang saya pandu. Cuaca di pelabuhan kedisan siang itu sangat cerah walaupun gelombang air danau batur agak besar, tidak mengurangi semangat kami untuk menyeberang menuju kuburan desa Trunyan. Perjalanan mengunakan jalur danau ( dengan boat) membutuhkan waktu sekitar 15- 20 menit, boat kami melaju dengan latar belakang gunung batur di kejauhan, sungguh pemandangan alam yang indah.
Informasi Boat Rate ( dalam Rupiah) di Pelabuhan Kedisan, Kintamani :
- Satu Orang @375.000
- Dua orang @188500 ——- 377.000
- Tiga orang @126.850——- 380.500
- Empat orang @95.625—— 382.500
- Lima orang @ 77.100 —– 385.500
- Enam orang @64.700 —– 388.000
- Tujuh orang @ 55.800 —– 390.000
- Info lebih lengkap hub. Balibuddy Hp/sms : 081338667808
Desa Trunyan merupakan salah satu desa Bali asli atau Bali mula, dengan tradisi uniknya tidak melakukan tradisi pembakaran atau mengubur jenazah kalau ada salah satu penduduk desa yang meninggal dunia, walaupun mereka adalah orang Bali yang memeluk agama Hindhu, seperti umumnya masyarakat Bali lainnya. Desa ini terletak di pingir Danau batur, akses jalan sudah masuk sampai kesa ini, tetapi perjalanan dengan boat memberikan pengalaman tersendiri.
Sesampai kami di dermaga desa, kami di sambut penduduk lokal yang sudah menunggu dan langsung mengantar kami ke Kuburan desa. Situasi dan kondisi disini , sekarang sedikit lebih baik ( tertata), kebiasaan untuk meminta-minta uang kepada tamu, kerap terjadi ( sedikit disayangkan). Areal kuburan desa trunyan tidak terlalu besar, dengan sebuah Pohon besar berdiri di tengah, yang menurut Pan Pani salah sorang penduduk desa ( guide lokal ) yang kami temui, pohon besar itu adalah Taru Menyan ( Taru : Pohon Menyan : Harum , menyan ) juga merupakan asal kata dari desa Trunyan, yang di perkirakan berusia ribuan tahun, aneh nya ukurang pohon ini tidak banyak mengalami perubahan. Pengamatan saya, pohon ini seperti pohon bunut ( pohon nyatoh , nama ilmiah Palaguim Spp Lihat disini )dengan getah kayu berwarna merah, pohon ini dipercaya penduduk setempat yang meyerap bau busuk dari jenazah yang mengalami proses pembusukan, ajaib !. Masih menurut pan pani, cikal bakal penduduk desa tidak membakar atau mengubur jenazah adalah, alkisah dahulu penduduk desa kebingungan karena muncul bau harum yang sangat menyengat, setelah di telusuri ternyata bau harum itu berasal dari sebuah pohon besar yang di kenal sebagai Taru Menyan , bau harum itu kadang sampai membuat penduduk sampai pilek. Atas ide tetua di desa, diletakanlah jenazah di bawah pohon untuk menetralisir bau harumnya dan ide itu berhasil, penduduk tidak lagi terganngu dengan bau harum yang menyengat. Tata cara penguburan itu masih tetap di laksanakan samapai sekarang. Untuk informasi, tidak semua jenazah penduduk desa yang meninggal di letakkan disini. Ada peraturan yang berlaku, karena jumlah jenazah yang di kubur di kuburan ini tidak boleh lebih dari 11 jenazah, yang di letak kan disini adalah jenazah yang meninggal secara wajar dan pernah menikah, ada pun nama lain dari kuburan ini adalah Sema wayah . Selain Sema wayah ini desa Trunyan juga memiliki kuburan lain, apabila penyebab kematiannya tidak wajar, seperti karena kecelakaan, bunuh diri, atau dibunuh orang, mayatnya akan diletakan di lokasi yang bernama Sema Bantas. Sedangkan untuk mengubur bayi dan anak kecil, atau warga yang sudah dewasa tetapi belum menikah, akan diletakan di Sema Muda. Secara Ilmiah kenapa jenazah tidak mengeluarkan bau busuk, seperti yang terjadi di desa ini masih menjadi tanda tanya. Selamat berwisata di Bali !






waw….kebudayaan yang bagus yakk…kalo ke bali ntr bisa kontak2 dirimu bro?
wahhh. kpn aq k Bali lg ya???-
bli, betul tidak kalo ke trunyan itu agak kurang nyaman, katanya nih sering “dipalak” kalo mau kesana terutama pada saat naik kapal, dan saat berada di desanya. Sehingga desa itu “diboikot” oleh pemandu wisata lain. soalnya Saya terakhir kesana dengan keluarga tahun 2008, pada saat ingin ke trunyan, kita mampir ke museum gunung api yang di kintamani disana, nah pemandu kami (orang bali) bilang hal seperti itu, akibatnya kami tak jadi kesana.
mohon pencerahannya, karena suatu saat nanti saya akan ke bali lagi bersama keluarga, dan mungkin akan memasukan trunyan kedalam daftar kunjungan. Terima kasih.
Saya walaupun orang bali asli, tapi belum pernah kesini.
Nice Info….
salam kenal ya..
YOU SUCK
hE DOES SUCK
maximillion and krishna
HAY
HAY GUYS
69696969696jizzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz
SIAPA TU
anak homo!!
HAY SAYA UMMMMMMMMM KAMU GOBLOK!!!
KAVI ISRANI MANA
HALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALOGOBLOKHALOHALOHALOHALOHALOHALOHALO
sopo tu?? tak tau
WASSSSSUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU
UUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUP!!!!!!!!!
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
kerishna suka jiz
DADA SEMUA
salam kenla, bli,blogny abali banget, hehehe.maen juga ke blog ku bli ya,,: kotakinformasi.wordpress.com
aq sangat2 menyanyangkan. liburan kmrn saya ke daerah ini dan sangat2 menyeramkan.kami sekeluarga mencoba menuju ke desa yang terdapat puranya.yang katanya menuju ke kuburannya hanya menempuh 5 menit perjalanan.tapi anehnya banyak orang2 mengaku sebagai pemandu wisata.tapi anehnya lebih dari 6 orang.dengan keadaan jalan yang seperti itu sangat menakutkan.saya sarankan berhati2 untuk kearea ini.dan saya yakin cerita2 yang terjadi pemalakan di tengah jalan itu benar2 ada.karena hampir itu terjadi pada kita.untung kita mengurungkan niat untuk menyeberang ke pamakaman.
utuk para wisatawan yang berkeinginan ke area ini harap dipertimbangkan kembali.sangat2 RAWAN………..
Bali sangat indah…..jika sudah di Bali rasanya enggan tuk kembali lagi ke rumah
unik, mistik, dan lain daripada yg lain. MAkam Trunyan… salah satu kekayaan budaya Indonesia…. Indonesia my Love is Country….
pengen banget nyebrang kesana,,tapi belum kesampean.hikz,,,hikz,,,
aku orang bali…………….. belum juga pernah ke trunyan
Ping-balik: Desa Trunyan | annisaseptiasaripertiwihadi
Tanggal 6 May 2012, saya akhirnya berhasil menyebrang ke kuburan Trunyan bersama kawan saya, biaya penyebrangan 75,000 per orang dan melihat bagaimana mayat2 tersebut diletakkan begitu saja, bahkan ada mayat yang baru sebulan meninggal. Cuaca saat saya saya pergi sangat cerah dan suasana horor masih terasa. Di kuburan, siapkan uang 10,000 untuk dimasukkan ke dalam toples. Kebtulan saya ikut rombongan orang lain, jadi tidak begitu merasa takut. Di dermaga penyebrangan, banyak orang menawarkan jasa kesana, hati2 dalam memilih yg bukan resmi. Sayangnya, saya tidak sempat mengunjungi “Desa Trunyan”-nya..hanya kuburannya saja..Selamat berlibur
Bali terlalu indah untuk tdk dikunjungi…skali aq prgi sana smp skrg kenangan itu ga pernah hilang.
Eksotis….& amazing ….