Sejarah Pura Batur di Bali

Dalam sejarah atau yang di kenal dengan ” Babad” di sebutkan Bali sebagai taklukan majapahit, telah menempatkan penguasa di batur yakni Dalem ketut Ngelesir, sebagai pelaksana. Penempatan ini penguasa ini berkaitan dengan penyucian beberapa tempat pemujaan seperti gunung batukaru dan termasuk Pura batur sendiri. Beberapa penguasa bali yang sangat memperhatikan fungsi pura sebagai tempat pemujaan seperti Dalem Waturenggong, beliau sangat berjasa dalam menyatukan Batur, begitu pula Danghyang Nirarta sebagai pendeta Hindhu yang datang ke Bali pada tahun 1465, sangat aktiv menyebarkan dan menguatkan akar-akar Budaya agama hindhu Bali di seluruh Bali. Awalnya Pura Batur Tui ( tua) terletak di desa batur yang berlokasi di kaki gunung batur, menghadap ke danau dan gunung batur. Lokasi ini di benarkan dan dimuat dalam sumber traditional dan juga sumber luar ( dari negeri belanda). Diantara sumber barat yang mengabadikan pura batur pada tahun 1869, sebelum pura ini di porak poranda kan oleh lahar. Adapula sumber yang mengatakan bagaimana pura ini pada tahun 1900-an setelah lahar benar-benar melalap pintu gerbang utama dari sebagaian besar lokasi pura. Sumber ini mengatakan pada tahun 1919 Pura batoer Tua masih di puja dan di kunjungi oleh masyarakat sekitarnya. Meletusnya anak gunung batur pada tahun 1926 adalah merupakan penyebab pindahnya pura ulun danu batur, pura batur dan desa batur yang berulang kali di dera bencana letusan gunung batur. Perpindahan ini tidak hanya dari segi manuasianya tetapi juga meliputi perpindahan sarana-sarana yang terkait dengan pura batur tua, di selamatkan di tempat yang aman. Pura yang sekarang berada di desa pekraman batur adalah menyerupai struktur dan bangunan pura batur tua yang berlokasi di kaki gunung batur, perbedaannya adalah  dari segi luasnya pura batur tua sangat luas di bandingkan dengan yang sekarang, namun dilihat dari fungsinya tetap sama. Pemindahan lokasi pura ke tempat yang baru ( sekarang ini) juga didasari pertimbangan kemudahan masyarakat mencapai pura untuk ibadah, walau gunung batur dalam kondisi siaga, masyarakat masih tetap bisa melakukan ibadah. Demikian sekilas sejarah Pura Batur sekarang yang di sarikan dari sumber terkait. Salam dari Bali

3 thoughts on “Sejarah Pura Batur di Bali

  1. Ping-balik: Bali Is My Life « wayansuyasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s