Seperti biasanya, hari ini kesekian kalinya saya mengunjungi Pura Uluwatu memandu tamu saya, untuk menyaksikan Sunset di atas samudera India dan Tari kecak Api yang sangat terkenal di sini. semua tampak biasa buat saya walaupun hal-hal yang tidak biasa terjadi……
Pura uluwatu merupakan salah satu dari enam pura penting bagi umat hindhu atau di kenal dengan nama ” Pura Sad Kahyangan ” di Bali, yang berlokasi di selatan pulau Bali, tepatnya di desa Pecatu , Kacamatan Kuta, Kabupaten Badung, Sekitar 25 km ke selatan dari Pusat Kota Denpasar. Pura ini menurut akar katanya ” Ulu ” berarti Kepala atau Ujung dan “Watu” berarti Batu ,oleh karenanya yang dimaksud pura uluwatu adalah pura yang di bangun pada ujung Batu diatas batu karang, yang tingginya kurang lebih 80 meter dari permukaan laut. Pura ini di perkirakan di awali di bangun pada abad ke – 11 oleh salah satu pendeta suci dari jawa yaitu Mpu Kuturan dan di perluas oleh Danghyang Dwijendra pada abad ke-16 , setelah beliau di angkat menjadi Purohita (pendeta penasehat raja) dari Raja Dalem Waturenggong yang memerintah Bali pada Tahun 1460-1552. Di sebelah Timur pura tersebut terdapat hutan Kekeran ( Hutan Larangan) milik Pura yang di huni oleh banyak kera dan satwa lainnya.
Lamunan saya buyar ketika teriakan nyaring seorang tamu asing perempuan, yang kehilangan kalung nya di ambil monyet, kejadian nya sangat cepat persekian detik. Monyet “nakal’ itu lari ke atas tebing , pemandangan “aneh ” kerap kali terjadi, walau bukan makanan monyet, anting, kalung, tas, topi dan benda-benda kecil yang berwarna cerah paling sering di ‘embat’ sama monyet ini. Sekelelompok anak-anak dan dewasa yang berlaku sebagai “pawang monyet” berlari mengejar monyet sambil mengacung-acungkan makanan, kacang, buah bahkan telur rebus ( ini makanan favorit diatas kacang, khusus untuk kasus special seperti anting berlian atau kacamata armani). Sukses ! seorang anak menghampiri, tamu perempuan yang masih shock dengan membawa kalungnya kembali. Tamu itu tampak sangat gembira dan segera menarik beberapa lembar uang rupiah dan di berikan ke pada anak itu, Monkey bisnis ini sering terjadi dan sampai kapan akan terjadi, saya tidak tahu, penduduk lokal sepertinya membiarkan kan hal ini tejadi. Apakah ini sudah menjadi salah satu lapangan pekerjaan buat mereka. Kalo seandainya monyet ini di tata, seperti halnya di Hutan wisata monyet di tempat lain seperti Ubud, ketakutan kehilangan pekerjaan akan menghantui mereka. Membiarkan ” Monkey Bisnis” di Pura Uluwatu atau menambah pennganguran, saya pikir masih ada alternative lain, menurut anda ?
Bagi pengunjung yang ingin berkunjung ke pura uluwatu, saya sarankan melepaskan perhiasaan, kacamata, topi dan benda-benda kecil berwarna cerah sebelum memasuki areal suci pura Uluwatu, Pura uluwatu salah satu tempat indah yang wajib di kunjungi, mononton tarian kecak dan tari api sambil menyaksikan indah nya sunset di atas samudera india, sangat saya rekomedasikan. Selamat Berlibur !